Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sering kali menyisakan tantangan tersendiri bagi anak-anak sekolah dasar maupun para orang tua. Namun, atmosfer penuh warna justru dirasakan oleh siswa-siswi kelas 2 SDN Cikerut. Untuk menghilangkan rasa bosan sekaligus mengasah kemampuan berbahasa, mereka diajak mengikuti kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia yang interaktif dan menyenangkan langsung dari rumah masing-masing.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kali ini harus dilaksanakan akibat letusan Anak Gunung Krakatau yang melontarkan hujan abu vulkanik hingga berdampak kepada lingkungan sekitar. Demi menjaga kesehatan pernafasan dan keselamatan para siswa dari paparan abu yang berbahaya, aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah terpaksa dihentikan sementara.

Kondisi mendadak ini tentu membawa beban tersendiri. Masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang memicu bencana alam rentan membuat siswa merasa jenuh, dan kesulitan mengekspresikan emosi mereka. Di sisi lain, pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini juga mewarnai dinamika peran orang tua di rumah. Beberapa orang tua murid sempat mengeluh bahwa mereka merasa tidak sanggup lagi mendampingi dan mengajari anak-anak tentang materi sekolah di rumah. Mereka sangat berharap agar letusan segera mereda, hujan abu berlalu, dan anak-anak bisa kembali belajar dengan aman di sekolah. Oleh karena itu, melalui materi ekspresi diri pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ini, guru menghadirkan kegiatan yang lebih ringan, seru, dan menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk mengolah emosi serta melatih keberanian berbicara.

Lalu, bagaimana proses pembelajaran menyenangkan ini berlangsung? https://drive.google.com/drive/folders/1Klxv5-0wfYNoYuUY_0B_6QI2TiWQ-b6m

  • Bercerita Lewat Video: Anak-anak merekam video pendek berisi presentasi singkat mengenai perasaan yang mereka rasakan selama PJJ akibat hujan abu vulkanik—apakah rindu suasana sekolah, bosan berada di dalam rumah, atau tetap bersemangat—beserta rasa emosional.

  • Menggambar Ekspresi Perasaan: Setelah mengungkapkan perasaannya secara lisan, anak-anak meluapkan kembali emosi tersebut ke dalam bentuk visual. Mereka menggambar dan mewarnai karakter atau simbol yang mewakili perasaan mereka di atas kertas gambar.

Pembelajaran kreatif ini diikuti oleh 28 siswa kelas 2 SDN Cikerut dengan penuh antusias. Meskipun orang tua menghadapi tantangan mendampingi anak di tengah situasi darurat abu vulkanik, keterlibatan mereka dalam mendokumentasikan kegiatan ini justru menjadi momen kebersamaan yang berharga.

Hasilnya luar biasa. Kegiatan ini tidak hanya berhasil mengasah keterampilan berbicara ( public speaking ) dan seni rupa anak sejak dini, tetapi juga menjadi sarana refleksi emosional yang menenangkan bagi anak-anak maupun orang tua di tengah bencana hujan abu vulkanik.